Minggu, 13 Juni 2010

Tentang Wisuda






      Baru mulai menulis saja sudah tak tahan terbahak-bahak. Lucu sekali... tipe muka sepertiku (masih tertawa). Sekaligus mengenaskan sekali (senyum langsung hilang). Awalnya, aku sudah berpikir-pikir akan merias wajahku sendiri. Termasuk kerudung dan tetek bengeknya. Ayah ibu cukup mengeluarkan uang untuk menyewakanku rok batik. Lalu lama-lama...
1.    Aku melihat kebaya hijau emas milik ibuku kecil dan PAS DI BADAN (oh, astaga, ibuku yang malang, beliau bilang semisal itulah badannya dulu ketika SMA!). APAKAH INI BERARTI AKU GEMBROT? Astaghfirullahaladzim...(menangis sambil menekan-nekan perut karena terlalu banyak tertawa). Kuputuskan untuk minta ortu menyewakan kebaya juga. Aje gile, ogah ya, pake baju ketat! Walau bagusnya masya Allah.
2.    Nah, ini biang keladi masalahnya. Aku, cewek yang sedari lahir (?!) tidak suka dandan, penasaran: seperti apa rasanya dirias? Apakah bila aku dirias orang lain akan terlihat lebih ‘kinclong’? Tapi aku sudah menyimpan jawaban terakhir; bila si-perias-yang-bukan-diriku-sendiri-itu berkualitas te.o.pe., maka jelas: ya. Sayangnya, aku sudah keburu berharap bakal terjadi perubahan signifikan. Jadi... kuminta pihak persewaan kebaya untuk sekaligus meriasku.
3.    Karena sudah teracuni oleh pikiran-setan-semacam-nomor-dua di atas, aku lagi-lagi berpikir: kenapa tidak sekalian minta kerudungku dirias di sana juga? Toh, karena sudah berpengalaman, mestinya hasilnya lebih bagus daripada yang pernah kucoba sendiri.
    Kucoba sendiri? Ahai, benar, saudara-saudara! Aku sempat mencoba sendiri merangkai kerudung hijau dan kuning pasta sesuai warna kebaya ibuku hanya beberapa jam setelah aku pulang dari salon+persewaan baju tersebut di atas. Aku menyempatkan diri membaca-gratis-di-Gramedia-majalah-fashion-muslimah-untuk-kalangan-remaja-karangan-seorang-mahasiswi-pemilik-rumah-mode untuk menyiapkan kemungkinan aku harus merias sendiri ini. Kutambahi gelang manik-manik ungu kecil milik kakakku, dan wajahku bahkan tidak kububuhi bedak, apalagi yang lain, hanya lip balm transparan yang sehari-hari kupakai. Lip gloss? Tidak. Foundation? Nihil. Eye Shadow? No way (ahaha, malah ngelantur). Saat melihat hasilnya, aku memang merasa tatanan kerudungku kurang rapi dan cerdik; sehingga entah bagaimana ceritanya ujung belakang dan samping kanan kerudung tidak bisa kukepang bersama sisa gelang yang menjuntai (oke, kepanjangan. Baca saja: ketiganya terlalu pendek untuk dikepang); aku belum memakai pump shoes batik coklat krem berpita yang menurutku tidak semengerikan high heels; serta wajahku jelas membutuhkan foundation ringan yang dipakai tipis dengan satu tingkat di atas warna kulitku; bedak senada foundation; eye shadow hijau terang yang dipoles tipis di ujung dalam kelopak mata; dan lip love Vision V* yang di tutupi lip gloss berry tipis sehingga warna yang dihasilkan sewarna bibirku bila makan-minum yang terlalu panas atau pedas; tapi aku cukup puas. Tak ayal karena dengan begitu aku jadi tahu apa saja yang perlu kubenahi dan kusempurnakan bila aku benar-benar harus dandan sendiri. Lagi pula aku senang bisa menciptakan sendiri gaya berkerudung-menutupi-dada-yang-kupraktekkan-saat-itu, yang bila jadi kukenakan saat wisuda aku yakin akan jadi satu-satunya yang berkerudung dengan style seperti itu. Memang, aku sudah menebak akan menemui beberapa teman yang mengenakan kerudung dengan model dikepang sepertiku. Tapi bila dengan kepang samping+untaian manik-manik di kepala+keadaan kerudung yang tak dimasukkan ke dalam kebaya? Ha, kutebak, tak ada. Hm, kira-kira seperti ini visualisasinya.


     Ok, itu hayalan *ngarepdotcom* (image cr to Sheepikos)
Di hari-H, yang tak kuinginkan satu persatu terwujud. (Saran: baca dengan tempo lambat) Pertama, terlambat diantar ke salon. Kedua, aku baru menyadari kebayanya jatuh di badanku tidak sebagus saat masih tertambat di gantungannya. Ketiga sekaligus penutup ter-menyeramkan... aku melihat ke kaca salon dan menjerit dalam hati: INI TOPENG ATAU MUKA?? INI BUKAN AKU!!!
    Bagus. Kini aku hanya harus menunggu didrop ayahku ke AA YKPN sambil berusaha meyakinkan diri: aku sudah dan memang meminta dirias transparan, jadi tak perlu khawatir mukaku terlihat menor.
    Saat aku pulang: Akmal, si-bocah-TK-nol-kecil, cekikikan melihat tampangku dan berkata tanpa dosa: “Waaa... kak Dina kayak manten!”; Nadia, si-bengal-kelas-dua-SMP, berteriak histeris penuh kehebringan: “Aaah hah hah hah hah... kak Dina kayak lenong!”; Diah, cewek-(sok)-imut-kelas-dua-SMA, mengangkat sebelah alisnya dan mencibir miring: “Dengan gitu kak Dina makin mirip Bu Wid”; dan ayahku berkomentar cengengesan terhadap fotoku bersama Tia dan Ajeng: “Wah, ada nenek-nenek tuh yang paling kanan!”. Maka kujambak ketiga bocah tengil itu dan kujedotkan satu sama lain, sementara ayahku kusambiti dengan batu sebesar gabang. YA ENGGAKLAH.
    Yang terjadi adalah, aku terbahak sejadi-jadinya. Aku SETUJU dengan mereka. AH HAH HAH HAH HAH!!! (lengkingan kekeh nenek lampir)
    Mau tahu apa yang kulihat di kaca salon? Cewek di cermin separuh badan itu nyengir kuda dengan bibir pink keunguan, mata sipit berkelopak gelap melang-meling, dan kulit coklat-aneh. Plus, kerudung yang DIMASUKKAN ke dalam kebaya.
    O eM Ji.
    Padahal aku sudah berharap berpenampilan beda dengan gaya berkerudungku sendiri. Padahal aku sudah meminta pihak salon untuk memakai foundation dan lip gloss berry yang kubawa sendiri. Padahal aku sudah berangan akan memakai pump shoes lucu itu. Dan yang terpenting, padahal aku sudah minta agar dirias transparan a.k.a. kalem (sifat melankolis keluar).
    Banyak yang kusesalkan, tapi bagian yang paling parah adalah : perlu sampai EMPAT KALI pembersihan dengan make-up remover hanya untuk menghilangkan FOUNDATION+BEDAK+EYE SHIMMER yang ternyata dipulaskan ibu pemilik salon yang baik hati ke wajahku masya Allah tebalnya.
    Baiklah. Pengakuan. Sebenarnya aku tidak menyesal-menyesal amat. Di awal acara, iya. Tapi lama-kelamaan, terutama setelah keluargaku mengomentari, yang kurasakan malah sakit perut gara-gara geli melihat mukaku sendiri (cekikikan lagi, masih memegangi bawah dada). Ha ha ha ha ha.
    Aku mensyukuri kebaikan keluarga Andi -atau Anis, begitu panggilan sayang keluarganya- yang membiarkanku mendesak-desak mereka di antara kursi penumpang belakang mobil sedan mereka saat kembali ke rumah. Juga mensyukuri bisa langsung mandi kembang tujuh rupa (hahaha, lebay nian atuh) begitu sesi membersihkan muka selesai, saking gerahnya.

Jumat, 11 Juni 2010

My Ordinary Life

               Bakayarou. Aku ingin dan sedang berusaha mencari arti nama kata itu. Kalau di buku belajar bahasa Jepang kak Anisa tidak ada aku akan cari di tempat lain. Penasaran. Dan ternyataaa, itu salah satu kata makian, kurang lebih bermakna "Kamu pintar tolol!"
    Baru sembuh dari flu ringan, kutengok langit. Duh, mendung lagi. Aku teringat, kemarin, dengan coat-kulit-berbulu milik ibu melekat di tubuh gegara flu, aku menjemur cucian yang tak sempat dijemur ibu, setelah memberesi jemuran hari sebelumnya tentu, padahal aku tipe orang yang gampang berkeringat. Lah... baru sebagian terjemur, tetiba "tes... tes... tes... bresh....." yah, akhirnya pakaian kumasukkan kembali, sekaligus meneduhkan handuk & baju tidur, lalu meneruskan menjemur dalam rumah. Turun lalu istirahat dengan badan penuh peluh.
    Aku tidak suka sakit jika melihat keluargaku. Karena aku jadi tidak bisa maksimal dalam meringankan kerepotan ayah-ibu dan saudaraku. Aku juga tidak suka sakit bila mengingat teman-temanku. Karena aku jadi tidak bisa ikut tertawa bersama mereka, apalagi membuat mereka senang. Lagi pula, tiga hari lagi adikku ulang tahun. Dua hari lagi aku akan bertemu terakhir kalinya dengan teman-teman sekolahku sebagai sesama pelajar melalui wisuda. Itulah mengapa, sekarang aku berharap panasku segera turun sehingga aku bisa segera menggulung lengan baju dan menjalani semua kembali.
    Wah jan (opo ‘wajan’ sisan wae yo? Hihihi) ra penting tenan, nulis ra ana juntrungane kaya ngunu. O.K., ganti topik.
    Kalau dipikir-pikir, orang Indonesia hebat dalam hal bahasa ya? Masa, tiap suku punya bahasa daerah sendiri-sendiri tapi juga punya dan memakai bahasa nasional Indonesia... berarti setidaknya tiap orang bisa dwibahasa dong... walau satu lokal satu lagi nasional. Belum lagi kalau menguasai bahasa Inggris dan bahasa slang, berarti kan jadi tri/caturbahasa... (lama-lama jadi caturbahasa, pancabahasa, heptabahasa, blah, blah, blah... ) Kan bagus tuh? Coba bangsa lain, kan belum tentu tiap daerahnya punya bahasa yang bhinneka laiknya Indonesia tertjintah? Yang sering justru satu bahasa dengan banyak logat. Jadi makin bangga sebagai anak Indomienesia nih. Asal tidak setiap situasi menerapkan bahasa slang saja. Alay (atau bhay, kalau kata adik kelasku)
    Kata Seneca, “Semua kekejaman muncul dari kelemahan”. Just like me, I think. ToT
Sebab nyatanya aku memproyeksikan kelemahanku dalam menghadapi seorang teman antagonis zaman SD menjadi kekejaman tingkat akut terhadap adik-adikku... Menyedihkan sekali, orang dengan sifat seperti ini. Tidak bisa menghadapi masalah dengan kekuatan hati dan moral. Aku bukannya kasihan pada diriku, atau pada orang sepertiku, tapi kasihan pada korban yang bertimbulan karena perbuatan orang sepertiku. Bahkan seakan tidak cukup, aku membuat mereka marah padaku. Padahal aku yakin aku sayang mereka, terutama keluargaku. Ingin membahagiakan mereka. Ingin membela mereka bila mereka benar. Ingin terus berada bersama mereka. Terus mendukung mereka walau sembunyi-sembunyi. Padahal dalam hati aku selalu menegaskan aku mencintai mereka. Selalu dan selamanya. Tapi buktinya? Masih saja aku sering menyakiti mereka. Dan, mengherankan sekaligus membuatku bersyukur sekali, orang dengan tabiat jelek sepertiku ini, bisa-bisanya dianugrahi hidayah Quran Hadis oleh Allah. Tiket untuk masuk surga. Kesempatan paling luar biasa yang langka. Sangat langka, maksudku. Langka karena kemungkinan ditemukannya 1 diantara 100.000 orang di dunia fana  ini. Alhamdulillah... Sebaliknya, miris, miris sekali, orang-orang yang justru jelas memiliki hati yang mulia, orang-orang seperti Lady Di yang disayangi banyak orang dan Bunda Theresa yang dikenang begitu banyak orang karena pengabdian keduanya yang luar biasa pada masyarakat, atau orang secerdas Albert Einstein, yang begitu besar jasanya dalam IPTEK hingga menjadi simbol kecerdasan, tidak terciprat hidayah ini. Sungguh, sayang sekali.

Selasa, 08 Juni 2010

Danke, Everyone!

Aku tak ingin melupakan teman-temanku:
µ    µ    Ochi; yang selalu jadi teman sekelasku semenjak awal hingga lulus tapi sayangnya tak pernah dekat. Aku ingat, dia sering cemberut bila teman-teman mempermasalahkan (sori Chi) dahinya. Dea sering menirukan caranya mengucapkan huruf “d”.
µ    Nita; yang meski pindah di pertengahan tahun, bersama Adin sempat menjadi teman sekelasku selama 2 tahun yang awal. Selalu ceria, punya lesung pipit dan jago nge-dance.
µ    Adin; sering ‘dipaksa’ mengerjakan tugas bahasa Jawa kelompok karena status “Raden”-nya. Kalau tidak salah, beberapa kali diam-diam kupergoki dia mencorat-coret meja.
µ    Tia; yang, sama seperti Dewi, Lia, Eek dan Bogat, menjadi teman sekelasku selama kelas X dan XII; merupakan teman sebangkuku, dia manusia paling waras di kelas versiku sendiri. ;p
µ    Dewi; yang jadi jauh lebih cantik dari pada ketika sekelas denganku pertama kali; rajin dan gigih
µ    Lia; sifat super kalemnya tak pernah berubah; mudah mendapat teman
µ    Eek; aku tidak tahu kenapa dia dipanggil begitu; orang paling santai yang pernah kutemui
µ    Bogat; akrab dengan Lia, peduli teman
µ    Norma; yang setia menjadi teman-satu-meja di kelas XI dan beberapa kali di kelas XII; tindak-tanduknya yang sering di luar dugaan tak akan pernah terlupakan
µ    Pingkan; yang selalu rela PRnya disontek orang lain (termasuk olehku) tapi aku tahu sebenarnya dia sebal dibegitukan terus
µ    Sinta; selalu cengar-cengir sambil mengulurkan surat izin mengikuti pelajaran pada guru yang sedang mengajar bila datang terlambat; aku ingat dia sangat shocked saat putus dengan pacarnya namun segera ceria sekali beberapa jam kemudian akibat berbaikan kembali
µ    Dea; orang pertama yang menirukan Ochi dan mengejek dahinya; dia juga yang pertama mempermasalahkan berat badan Pingkan (sori Ping!)
µ    Kremi; sekelas dengan Norma, Pingkan, Sinta, Dea dan aku selama kelas dua dan tiga; si penjaja stiker yang kerap dinasihati agar berhenti merokok
µ    Sysweet; cewek lugu nan sederhana yang satu amanahnya padaku belum kutuntaskan (Maaf Sweet, aku belum memberitahumu kalau adikku Disa tidak menjawab saat kusarankan mengikuti seleksi olimpiade Geografi); aku punya dugaan dia hampir tak pernah menyakiti orang lain
µ    Ratna; yang bila mengkritik orang selalu tajam dan apa adanya (aku pernah mengalaminya, walau kurang aku sukai tapi aku bersyukur dia melakukannya, thanks ya Ratna!)
µ    Pepin; aku bingung dia sebenarnya tomboy atau tidak; tapi aku suka gaya cewek jago gambar ini
µ    Dita; perangai halusnya selalu membuatku nyaman mengobrol dengannya
µ    Desti; baik, cerdas, berambut keriting dan berkaca mata, dia adalah orang yang tipe suaranya jarang kudengar
µ    Gita; di saat yang selalu tak kuduga sering menyisir rambutnya; dia pintar di balik muka yang ekspresi bingungnya tak bisa digambarkan oleh kata-kata
µ    Linda; yang meski polemnya bolong (hehe, sori Lin, aku ingat kamu pernah bertanya padaku apakah polemmu bolong) menurutku tetap cantik
µ    Hildhe; seingatku dia selalu wangi dan rapi
µ    Tika; dari wajahnya aku menebak dia orang yang rendah hati, dan ternyata benar
µ    Odil; yang tidak banyak bicara serta dewasa
µ    Shera; jago basket sekaligus cukup feminin; menurutku dia punya sifat penyayang
µ    Wulan; tipe cewek ramah dan kalem, ketika kelas satu sering terlihat bersama Gita, Desti, Hildhe, Linda, Shera dan Odil.
µ    Tanti; penjual pulsa yang berkata padaku sering tidak enak hati menagih utang uang pulsa pada teman-temannya
µ    Lucia; geli melihat pak Doso mengira Sita sebagai dirinya, aku bangga plus terharu sekali dengan dirinya dan apa yang diceritakannya panjang lebar di facebook pasca pengumuman UN
µ     Amel; pemilik novel populer Harry Potter dan Eragon beserta serialnya ini berbakat menjadi novelis hebat. Oh ya, hatinya sebenarnya baik sekali meski luarnya terlihat urakan. (Sudahkah kau terbitkan novelmu, Mel?)
µ    Eta; cewek sangat feminin dan manis yang-langsung-dijadikan-pacar-dalam-sehari-oleh-teman-teman-cowok di hari pertamanya pindah ke 6C (hahaha). Little cute girl has grown up!
µ    Syena; tulisannya yang mungil kontras dengan tubuhnya yang tinggi
µ    Deva; cantik dan juga rendah hati, dia selalu ikut senang dengan kebahagiaan orang lain
µ    Lutfi; yang paling sulit kutebak mengenai bagaimana karakternya
µ    Ucup; aku sungguh berterima kasih dia mau menerima Tia, Norma, Ajeng dan aku dalam kelompok-perbaikan-seni-rupa-nya yang mana kemudian dia masih juga bermurah hati meng-handle sebagian dana
µ    Kedvin; dia teman yang menyenangkan; aku masih merasa bersalah dan malu jika mengingat apa yang dulu pernah kutanyakan padanya yang akhirnya membuatku minta maaf di depan kelas –ah, itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku menangis di hadapan orang selain keluargaku-
µ    Tian; cowok paling pendiam di kelas X6 tapi sekaligus misterius
µ    Lintang; aku tidak tahu dia kalem karena pendiam atau pendiam karena kalem
µ    Levi; yang, seingatku, dulu sering memakai jaket walau tak seintens Kedvin
µ    Andi; yang membuatku heran karena seakan tidak menyadari dirinya cantik, pandai dan begitu rendah hati serta tak segan-segan menolong. Apa karena dia pernah dikatakan cocok menjadi penyanyi dangdut? (hahaha, peace, Ndi     v^-^)
µ    Dira; yang selalu satu sekolah denganku sejak SMP tapi baru sekelas ketika kelas sebelas. Jangan protes Dir, badanmu memang tinggi untuk ukuran cewek Indonesia, seperti genter. Hahaha, peace!
µ    Ajeng; aku masih ingat, beberapa teman sekelas kami, termasuk aku, terkaget-kaget dengan penampilannya saat menjadi diajeng kelas kami. Sayang kelas kami tidak menang...
µ    Nina; aku senang dia mau membaca dan menilai draft novelku yang baru seperlima jadi, padahal kukira dia orang yang cuek bebek
µ    Kiki; yang pernah kuberitahu bahwa wajahnya mirip tetanggaku dalam versi putihnya; dekat dengan Yoa
µ    Yoa; yang statusnya di facebook membuatku sadar dia tidak ‘angker’ seperti wajahnya (hehe, maaf Yo...)
µ    Dora; yang, menurut Norma dan aku, feminin sekaligus tomboy (nah lho, bagaimana bisa coba?)
µ    Nanda; tak banyak bicara, dia teman dekat Dora
µ    Putri; cewek yang aktif di Rohis ini selalu tampak tenang
µ    Sanya; yang kata-katanya selalu halus dan terkontrol; aku masih penasaran dengan status penyiar radio-nya (hahaha)
µ    Asni; yang, karena tidak ingin menyakiti orangnya, memilih berkeluh kesah di tempat lain tentang orang yang menjengkelkannya. Kebaikannya sering tidak terlihat
µ    Adit; yang sering khawatir dengan tubuhnya sendiri; sifatnya agak kenes (haha, sori Dit)
µ    Devi; bicaranya yang cepat (meski aku yakin tidak secepat saat aku memarahi adik-adikku, hahaha) menjadi kekhasan dirinya yang mudah-mudahan tak akan kulupakan
µ    Wiwit; unsur Jawa dalam dirinya masih kental, dialah orang yang membuatku ingin sungguh-sungguh bisa menguasai kromo inggil; dia sepertinya senang menghadiri pameran buku
µ    Mbak Gal; yang perangainya halus seperti putri-putri kerajaan
µ    Mala; aku ingat pernah memberitahunya bahwa dia mirip Catherine Wright, pemeran Aisyah dalam AAC, dan aku tak menyesal telah mengatakannya (habis menurutku memang mirip)
µ    Vista; aku tak tahu kenapa dia dipanggil simbah; aku selalu ingin mengatakan padanya aku seperti pernah melihat wajah sepertinya dulu sekali tapi selalu lupa juga (hahaha)
µ    Silvy; yang bersifat girly; dia peduli pada orang lain
µ    Ayu; dia, seingatku, satu-satunya orang di kelas XI IPA 1 yang merayakan bertambahnya umur menjadi 17 dengan besar-besaran; dia rekan Dea dalam konteks saling mengejek
µ    Rani; aku tidak menduga bahwa dia sebenarnya agak tomboy
µ    Lia; yang aktif dalam organisasi sekolah maupun kepanitiaan event-event sekolah
µ    Velia; dia sohib kental Sinta yang kelihatannya paling ‘waras’ di antara teman-teman Balakurawanya (hehehe, maaf kalau ini menyinggung...)
µ    Gangsar; dia cowok cakep yang kaku bila diminta berperilaku seperti cowok dingin (ingat waktu Kartinian? Hahaha); pintar dan mau membantu orang lain sepanjang tidak merugikan dirinya sendiri (ya eyalah... haha)
µ    Alif; yang pendiam tapi agak mengejutkan
µ    Sidik; si jago matematika ini mukanya mudah berubah merah padam; sampai kini aku bingung untuk apa dia memanggilku hanya agar aku mengetahui siapa pacarnya (ampun deh Dik, kelihatannya setiap orang yang lewat di depan BK sudah tahu tuh, hahaha... peace!)
µ    Teo; yang saking menghayati perannya dalam drama HL sampai-sampai sungguhan membiarkan dirinya hanya memakai atasan singlet (padahal aku sudah memberitahunya dia tak perlu sebegitunya), jadilah kami teman sekelompoknya tertawa; orangnya menyenangkan untuk diajak bicara
µ    Rico; yang, kata Andi, suaranya tak berintonasi sama sekali dan wajahnya tak kaya ekspresi (sori, haha); teman-teman menyebutnya mirip Suneo saat sedang tertawa (aku setuju, hahaha. Peace!)
µ    Ajenk; orang yang mau-mau saja kuhutangi; dia ramah sekali. Hm, aku masih curiga dia sebenarnya memang masih keturunan bule. Hahaha.
µ    Dinda; cewek mungil berlesung pipit ini teman baik Cindut; sering kuusili tapi sering pula membalas keusilanku
µ    Cindut; aku kagum dengan sifat sabar dan pengayomnya
µ    Rena; sama dengan Dira, dia sudah sesekolah denganku sejak SMP tapi baru di tahun terakhir kami bisa sekelas; berbakat dalam seni rupa dan senang menolong orang lain
µ    Opik; yang selalu mengerjap-ngerjapkan mata bila bingung (ndhodhok wae Pik! Hahaha) tapi tetap ramah pada siapapun
µ    Vidya; yang mengajariku cara main UNO; dia penggila permainan itu, sepertinya; merasa bodoh kalau sampai ada keperluan sekolahnya yang lupa dibawa (padahal aku sering lupa, tapi rasanya biasa saja.... hahaha) Peace Vid!
µ    Lina; yang pada awal kelas dua belas sering tertukar nama dengan Mbak Tut olehku karena aku mengira mereka mirip; perilaku cewek ini sehalus suaranya
µ    Mbak Tut; kekalemannya menakjubkanku di awal aku mengenalnya (Martha...kenapa dirimu dipanggil ‘Mbak Tut’ oleh yang lain?)
µ    Ditya; pipinya yang memang nyempluk seperti tomat menjadi target ejekan teman-teman sekelas terutama oleh Bogat
µ    Imint; cewek luar biasa yang memandang dirinya biasa sementara orang lain luar biasa
µ    Nanda; yang suara kerasnya saat berbicara akan kurindukan karena ada-seseorang-di-kelas-yang-mengeluh-dengan-berisiknya-kelas-akibat-kerasnya-suaranya. Hehehe, maaf Nand!
µ    Cocip; partner Nanda di XII IPA 5 dalam bergojeg ria, hahaha; dia sering terlalu memandang rendah dirinya sendiri
µ    Aisyah; yang meski tak pernah hadir di kelas dua belas, dari kegiatannya di Rohis aku yakin dia orang yang optimistis dalam menghadapi persoalan
µ    Alfi; yang adalah cowok terlucu di kelas versiku
µ    Olan; sang calon tentara yang namanya saja sudah bak tentara berpangkat; sering lupa atau sengaja tidak jaim, aku tidak tahu yang mana
µ    Kambil; ketua kelas yang nggilani tapi bertanggung jawab (hahaha, sori Mbil..)
µ    Hasta; pemikiran teman baik Helmi ini kadang tak terduga tapi brilian
µ    Helmi; cowok yang sepertinya belum mengamalkan perumpamaan “Let it flow...” karena selalu kurang pede.   
    Banyak sekali kejadian seru dan berharga yang kualami/kulihat selama menjadi anak 6C, tapi pada akhirnya hanya segelintir yang masih kuingat jelas. Ingat kejadian saat aku melakukan beberapa kebodohan di kelas sepuluh, yang berakibat aku merasa harus minta maaf secara terbuka di depan satu kelas –karena aku ingin minta maaf tidak hanya kepada satu orang--, yang kulakukan hari Sabtu setelah pelajaran matematika Bu Telly? Jika kamu membaca ini, Amel, aku terharu sekali kamu langsung maju untuk menghiburku yang menangis bombay (hahaha). Terima kasih, Mel. Kamu memang baik sekali. Kurasa itu akan jadi pengalaman yang paling berharga di antara kejadian lainnya. Karena aku belajar sangat banyak setelahnya. Bahwa jangan sampai membuat kecewa temanmu jika ingin mereka tetap menjadi temanmu. Bahwa jangan membuat marah temanmu bila tak ingin dibuat marah pula. Dan masih banyak lagi. Semoga aku tidak mengulangi kesalahan itu lagi, karena seperti kata Rachel Sarasvati Watson dalam novel berseri Mawar Merah: Mosaik: keledai saja tidak jatuh ke lubangnya dua kali.
    Aku minta maaf jika ada yang tersinggung bahkan lebih saat membaca kesan-kesanku di atas. Maaf juga karena aku tidak menulis tentang teman-teman yang tidak pernah sekelas denganku atau bila ada teman sekelas yang belum kusebut. Bagi yang sudah membacanya, arigatoo gozaimashita.
    Bagi yang berminat, aku akan berterima kasih kalian mau menge-tag ini ke sesama sixers.

Sabtu, 05 Juni 2010

A Story (session 2)

Seperti apakah rasanya tak bisa mendapatkan apa yang sangat, sangat diinginkan? Apakah kamu akan menangisinya –terasa kekanak-kanakan, memang—, atau akan menghela napas berat agar matamu yang hampir menumpahkan air mata menjadi lega kembali, ataukah akan mematung sejenak lalu tersenyum pahit sambil berkata dalam hati: “tak apa-apa, masih ada hari esok. Toh aku tidak mati hanya karena impianku tidak tercapai”? Ketiganya menunjukkan kedewasaanmu. Barang kali, aku termasuk yang tengah.
    Jarang sekali aku menggantikan ibu mengurus rumah selama seharian penuh. Biasanya itu hanya terjadi saat ibu harus ke rumah bersalin, sehingga selama satu-dua hari  (dan minimal semalam) tidak berada di rumah, itu pun seingatku baru 3 kali, sejak aku, bukan kakakku, sudah cukup besar untuk bisa diamanati ibu melakukannya. Tapi kali ini, ibu terpaksa berada di luar rumah seharian karena suatu hal yang sudah pasti  berbeda dengan keadaan sebelumnya. Karena kedua kakakku sedang pergi –yang paling tua ke Bandung dan lainnya rapat organisasi—dan adik-adikku sedang maupun akan menghadapi ujian semesteran serta ayahku sedang mengikuti rekreasi kantor tempat beliau bekerja, ibu pun memilih aku kembali sebagai orang yang beliau amanati untuk menjaga dan mengurus rumah. Sedari maghrib hingga pagi buta, lalu karena dua adikku yang masih TK harus datang dalam lomba marching band sekabupaten, ibu pergi kembali dari 2 jam berikutnya hingga pukul 12:00, dan tak sampai 1 jam kemudian pergi ke gedung Mandala Bhakti Wanitatama dalam rangka memenuhi undangan resepsi pernikahan. Otomatis, aku mesti menyelesaikan semua pekerjaan yang biasa ibu lakukan pada jam-jam itu. Memang pada malam harinya, adik pertamaku yang bernama Diah, yang kuamati sebenarnya cukup peduli dengan tanggung jawab ibu ini, sempat membantuku mencuci piring-piring, sendok-sendok, garpu-garpu, gelas-gelas, wadah-wadah bekal nasi serta panci-panci kotor yang menumpuk begitu banyak sehingga aku hanya bersemangat menatanya saja tanpa melibatkan diri mencucinya serta pada pagi harinya menyetrikakan atribut perang adikku yang hendak mengikuti lomba. ‘Kerja bakti’ku sendiri, entahlah... menyebutkannya satu persatu pasti akan membuatmu bosan dan lama-lama mendengkur, hahaha. Sebenarnya tak masalah seberapa banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, karena aku memang telah berjanji dalam hati akan membantu ibu sebanyak mungkin bila telah datang waktunya aku memiliki banyak waktu luang tanpa harus sekolah dan tetek bengeknya. Yang menjadi problem adalah, aku tipe orang yang mudah berkeringat dan dengan begitu mudah kepanasan –apa ada hubungannya dengan kulit hipersensitifku? Hm, aku yakin akan segera mengetahuinya bila sudah mulai kuliah nanti—sehingga pekerjaan biasa seperti menyetrika baju-baju ayah ibu dan adik-adikku, menyapu halaman dan mencuci pakaian secara manual pun –mesin cuci kami sudah lama rusak, hahaha- sanggup membuatku banjir keringat plus bermuka merah padam layaknya sehabis lari keliling komplek sekitar sekolah 2 kali saat ujian olahraga dahulu, akibat aku selalu tak ingin melakukan segala hal secara sembrono dan asal-asalan, melainkan harus sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Dan aku tak menyukai fakta itu. Maka sebisa mungkin selama ini aku menghindar dari pekerjaan itu. Sayangnya... kali ini aku jelas tak bisa, dengan keadaan rumah yang begitu sepi karena para penghuninya sedang sekolah atau kuliah atau lainnya, hanya ada adikku yang terkecil dan aku. Alhasil, aku menghabiskan 2 jam hanya untuk menyikat 2 ember besar + 1 baskom-yang-lebih-besar-lagi pakaian kotor keluargaku, air asin menetes-netes dari pelipis, anak-anak rambut hampir menutupi kening –yang keadaannya mirip dengan Mulan setelah diterjang badai gurun pasir dalam live movie berjudul si tokoh tersebut--, dan punggung –atau boyok, eh?—pegal tanpa ampun. Lengkap dah, tinggal ganti nama jadi Mbok Inem atau si Inah atau Mbak Yem. Hahaha.
    OK, kembali ke fokus awal. Hubungan aku-harus-mengganti-posisi-ibu dengan aku-termasuk-kategori-kedua adalah, setelah ibu pulang dari mengantar dan menemani dua adik dari mengikuti lomba marching band dan kebetulan aku baru saja selesai menjemur, aku jadi ingin sekali ikut ibu menghadiri resepsi pernikahan, karena sebelumnya aku jengkel sekali –dan kemudian mengaku stress pada ibuku, haha- mendapati kenyataan tak ada saudara lain selain Diah yang mau membantu. Maka tak ada salahnya aku mencari sedikit hiburan dengan ikut pergi ke acara itu. Barang kali karena saking jengkelnya aku saat itu sampai-sampai aku begitu ingin ikut pergi dan tidak memikirkan hal lain seperti, siapakah yang akan menjaga rumah bila aku juga pergi? Meski saat itu kakakku sudah pulang dari rapat, bukan berarti dia mau menjaga rumah karena masih ada kegiatan lain yang mesti dilakukannya, atau apakah tak masalah meninggalkan adik terkecil hanya dirawat oleh enam kakaknya yang baru duduk di bangku TK dan SD? Maka pertanyaan-pertanyaan itulah yang diajukan ibuku setelah aku menyampaikan keinginanku. Aku langsung terdiam, bertambah parah saat seorang adik berkata pada ibu dia ingin ikut pula. Akhirnya dia pun turut pergi dengan ibu setelah ibu menyuruhnya bertanya padaku –barang kali karena melihat perubahan air mukaku saat ibu menyampaikan keberatannya atas keikutsertaanku-- apakah boleh dia ikut, menggantikan si-calon-pertama-yang-tak-lain-aku-sendiri. Aku sendiri merasa tak keberatan tentang siapa atau apakah ada yang akhirnya ikut ibu, tapi tenggorokanku langsung tersumbat kencang saat itu juga –meski kau salah besar jika mengira air mata menetes keluar juga--. Memalukan ya? Hanya karena sedih gagal menghibur diri dari kejengkelan yang sebenarnya tak perlu saja, bereaksi seperti ini. Hem, tapi aku bersyukur sekali, eh, coba kuulangi, aku betul-betul bersyukur, dalam urusan  perasaan terhadap lawan jenis, --seperti yang telah aku ceritakan di sini—aku tak pernah benar-benar merasa depresi atau sedih menghadapi keinginan yang tak tercapai. Atau secara simbolisnya, aku cukup percaya diri mengatakan aku termasuk golongan terakhir dalam hal ini. Hahaha. Peace! (^0^)”

A Story

Pernahkah kamu merenung, seberapa jauh kau sudah membalas kebaikan-kebaikan, kasih sayang, dan pengabdian ibumu? Sempatkah kamu berpikir betapa kamu telah durhaka karena sampai saat ini pun tidak mampu mengimbangi semua yang telah diberi ibumu? Apakah terlintas di benakmu, selama ini diam-diam ibumu menitikkan air mata melihat ulahmu-yang-tidak-berterima-kasih?
    Itu semua kurasakan. Dan dengan jujur kukatakan dengan kepedihan, aku tidak benar-benar mendapati diriku menyesal hingga rasanya dadaku bergemuruh sesak mengetahui diriku separah itu. Setiap saat.
    Kami keluarga besar, dalam arti sebenarnya. Memiliki 13 anak dengan anak paling besar sedang kuliah semester akhir dan anak paling kecil baru 2 tahun,  kedua orang tuaku harus bekerja keras menghidupi dan mendidik anak-anaknya. Dan ibuku, beliau sendirian mengurus anak-anaknya yang kesemuanya belum mencari nafkah sendiri. Benar, tak ada asisten rumah tangga yang bisa meringankan pekerjaan ibuku. Ini terjadi sejak tahun 2001, atau seingatku, saat anak terkecil adalah adik ke-5ku. Maka, meski tak ada hubungannya dengan jumlah anak –sebab setiap anak memang mempunyai kewajiban berbakti pada orang tuanya-, sudah sepantasnya kami anak-anak beliau membantunya mengurus rumah.
    Selama ini, aku selalu berpikir aku harus mengurus rumah –mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, mengurus adik-adikku, membersihkan rumah, de el el- karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuat ibuku tersenyum. Walaupun banyak hal kecil lain kulakukan pula untuk membuat beliau senang. Tapi bagiku mengurus rumahlah yang paling penting. Itu memang sudah benar. Tapi nyatanya? Jarang sekali dalam sehari aku membantu ibuku. Entah karena aku terlalu sibuk, pergi sekolah jam 07:00 dan sampai rumah 14:00 lalu mengaji empat hari dalam seminggu –Senin, Rabu, Kamis, Jumat- dari pukul 20:00 sampai 22:00 atau les dari pulang sekolah sampai maghrib, atau latihan asad dari 16:00 sampai maghrib pada hari Jumat, atau GP tiap hari Sabtu -pukul 16:00 hingga esoknya jam 06:00- atau Minggu –dari jam 09:00 sampai 15:00-, dimana berarti aku hanya punya waktu kosong untuk tinggal di rumah mengurus rumah tanpa seharian menghilang dari rumah pada hari Selasa. Itupun kalau aku tidak punya acara yang kutempatkan di hari itu karena tidak ada waktu di lain hari. Belum lagi aktivitas pribadiku yang tidak ada hubungannya dengan mengurus rumah, yang mau tidak mau juga turut menguras habis waktu yang tersisa untuk mengurus rumah dan berarti juga mengurus adik-adikku, serta kemalasan-kemalasanku membantu ibu dengan alasan capai setelah seharian pergi. Padahal itu semua hanya karena aku tidak bisa memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik untuk menolong tugas rumah ibuku.
    Ibu mengasuh kami semua dengan penuh kesabaran ketika kami masih terlalu lemah untuk mengurus diri sendiri, meskipun, sebagai dampak kekurangajaran kami pascamasa anak-anak, ibu kini sering marah pada kami. Suatu pencapaian luar biasa yang akan dirayakan besar-besaran oleh iblis dan bala tentaranya. Suatu kali, aku sedang mengisi botol air putih di dapur dengan kasar akibat kesal tidak ada yang ikut, dengan cukup andil, membantuku seharian membereskan rumah. Ibu yang baru saja pulang dari mencari nafkah berkata padaku, “Kamu baru sehari mengurus rumah saja sudah kesal, apalagi ibu? Ibu dulu mengurus kalian semua sendirian karena kalian masih kecil-kecil, tidak ada yang bisa membantu ibu. Padahal asisten rumah tangga sudah tidak ada waktu itu, dan ibu melakukan itu tiap hari. Begitu terus hingga adikmu yang terakhir. Nah, kamu bisa bayangkan tidak, betapa beratnya pekerjaan ibu?” Jujur, aku tidak melewatkan begitu saja kata-kata ibu dari kuping kanan ke kuping kiri, tapi kenapa, kenapa hatiku tak merasa sesak? Kenapa seakan-akan aku hanya berpikir aku merasa sedih? Padahal dahulu aku selalu sanggup meneteskan air mata bila ibu mengeluh serta menasihatiku demikian. Apakah ini karena aku semakin kurang ajar pada ibuku? Apa karena hatiku semakin tidak sensitif terhadap kebaikan? Atau karena aku merasa sudah cukup berbakti pada ibuku? Ataukah karena ketiga-tiganya? ... aku sungguh berharap tak satupun dari ketiganya menjadi penyebab sikapku ini.
    Aku berusaha menjemur tiap hari, merapikan dan membersihkan meja makan serta dapur, mencuci piring-piring keluargaku, merapikan dan menyapu seluruh lantai dan halaman rumah, menyetrikakan seragam adik-adikku, melipat baju-baju saudaraku dan pakaian-pakaian ayah ibuku, memandikan adik-adikku yang masih TK dan bayi, menyuapi adikku, membersihkan rumah serta menjaga rumah saat ibuku pergi. Tapi itu JELAS kurang. Dibandingkan dengan semua barang dan jasa yang telah ibu dan ayah berikan padaku serta beratnya beban pekerjaan ibuku? Itu jelas bukan apa-apa. KENAPA aku masih seperti ini? Kenapa hingga kinipun aku masih saja tidak banyak membantu ibuku? KENAPA? Aku selalu berusaha membantu ibuku, terutama bila ibu berpesan supaya aku menjaga rumah saat ibu pergi mencari nafkah tambahan untuk mulut-mulut kami. Ibu sendiri pernah berkata, aku paling peka terhadap pekerjaan rumah dibanding saudara-saudaraku yang lain. Tapi kenapa, kenapa kenyataannya aku JARANG bisa seharian penuh mengurus rumah? Kenapa aku sering ikut bermalas-malasan melihat saudaraku juga tidak tergerak untuk membereskan rumah? Kenapa aku begini parahnya? Kenapa kami, khususnya aku, selalu membuat hati ibuku mendung? Kenapa kami jarang sekali bisa membuat ibu tersenyum melihat karya kami dalam berbakti pada beliau? Kenapa dahulu dengan sekarang baktiku pada ibu sama saja? Kenapa tidak ada kemajuan sedikitpun terhadap baktiku yang sangat minim ini dari dulu hingga kini? Aku gagal menjadi anak yang berbakti apalagi sholihah, meski selalu kuyakinkan pada diriku, masih ada kesempatan sebelum semuanya terlambat. Aku belum bisa membuat ibuku tersenyum ridho padaku karena bakti yang kuhaturkan padanya. Aku bahkan sering meremehkan kewajiban-kewajibanku sebagai anak. Selalu menginginkan dan sering mendapatkan hak-hakku tapi acap kali lalai kewajibanku berbakti. Padahal ibu telah begitu sayangnya pada kami. Padahal ibu telah begitu berkorbannya untuk kami, hingga rela hanya bekerja sebagai konsultan perusahaan kosmetik Swedia yang penghasilannya tidak begitu besar akibat tidak pernah bisa seharian keluar rumah mencari konsumen dan merekrut downline baru, hingga rela tidak bekerja sesuai titel sarjana jurusan kimia MIPA UI yang dimilikinya karena kecerdasannya, hingga rela membagi rezekinya sendiri dengan kami terutama adik-adikku yang masih kecil. Ya Allah, apakah dengan begini berarti kami, khususnya hamba, termasuk anak durhaka? Ya Allah, kenapa hingga kini kami tidak bisa membuat ibu bangga memiliki anak-anak seperti kami? Dan kenapa hamba tidak sungguh-sungguh merasa menyesal telah melakukan perbuatan sebiadab ini? Kenapa? Kenapa?
Astagfirulloh aladzim

Jumat, 04 Juni 2010

Caldo de Gallina: Pequeño pero Grande

    I think I could  forget him.  Get amount energy enough to hush him away. Entonces, i wake up from my asleep: he’s comin’ to me. In my wild dream. And, in fact, i always watch him out amazingly whenever i can see him.
    Three guys stand there.  Atra, Aul and..., him. His back's on me, He walk off. And i can't stand anymore.
    I call his name. Completely. My hands lift up, trying to reach him out. He turns his head. Turns his body towards me. He walks to me, leaving the two others. He grabs both my hands. We’re quiet for some minutes. He sees through my eyes. His lips barely smiles, but i can see how his corner lips moved a little. God, i could swear a slight light passed his eyes the time he turned to me. Words spitted out,
“You're the one who called me out that time?”
He directly understands, even beaming after.
“Yeah.”
His hands holds mine. Strong, protecting without being obsessive.  I felt i can't ever let my eyes off his.
“Thank you. That's so close. If only you didn't call my name...",
The clench loose a bit, his mimic warms up.
It's quiet again, till every dreams about him gathers up by the edge of my throat. Darn it, i wish i'll never wake up from this.
“I'm glad you hold me back” he confessed.
    Embun bercahaya merangkak naik dari perutku ke dada kemudian kepala, meninggalkan ketenteraman dan kesejukan yang melingkupi seluruh tubuhku, seakan baru kali itu embun itu menghinggapiku.
    Aku menanggapi sebiasa aku bisa menahan bungkahan di tenggorokanku, “Kali ini aku cukup berani untuk memanggilmu,” twinkling colours  in his eyes blinking brighter, “tidak hanya menatapmu”, sambungku jengah, and brighter.... Tiba-tiba aku merasa wajahku  memanas.
    He still grabs my hands, but…
“Aku tahu, tapi maaf, aku harus segera pergi,” the rainbow in his eyes sinks…
Tenggorokanku tercekat, mataku telah mengatakan segalanya, pun matanya. Tapi dia seakan membutakan mata dan menulikan telinga. Punggungnya tetap berbalik menghadapku, kakinya mulai menjauh...
    Rintik di sudut netra mengaburkan pandangku. Suara tercekik keluar dari pita suaraku,
“Jangan pergi...”
Dan dia berhenti, memelintirkan bahu dan kepalanya ke arahku. Oh, benarkah itu? Benarkah itu? Sinar matanya padam melihat rintik di sudut mataku? Rahangnya mengeras mendengar isakan lirihku? Badannya mematung.
    Tapi lalu, lamat-lamat, sangat pelan,  dia luruskan badannya. Dia pergi. Dan tak berhenti lagi.
    Rintik telah menderas.
    Lalu aku terbangun.
    Ada satu hal aneh, maka aku bertanya-tanya dalam hati: Kenapa tak ada setetes airpun menitik dari mataku? Saat melihat langit yang kemerahan di luar sana, aku sadar: aku akan baik-baik saja bila harus melupakan  perasaanku padanya. Buktinya, toh aku tak menangis walau rasanya ingin. Beberapa waktu kemudian aku mendapati diriku lega luar biasa. Lega melihat mataku tak basah, juga lega karena itu hanya mimpi. Aku bukan gadis cengeng, meski juga bukan gadis tegar yang menghadapi setiap risiko dan tantangan dengan kepala tegak serta penuh optimis. Oh, dan aku ingin mengucapkan terima kasih padanya telah membuatku belajar menyukai seseorang apa adanya.
    Dan aku tersenyum penuh arti melihat dunia. Duniaku. Dunia kita semua.