Tampilkan postingan dengan label begini dan begitu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label begini dan begitu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Homo sapiens, This Is My Deep Condolence

I know very well this post has been late about 33 minutes from my promise, but writing all-in-English-post while maintaining this difficult thought is kinda ...burdensome (giggle), regardless of my expensive free-time. Still, here it is, a brief words of mind. Enjoy.

People these days, they keep me surprised.  Praising one and another face to face, stabbing each other in the back. No wonder conflicts  spread everywhere.  Everyone gets hurt. Even the ones i thought quite tough can’t hold tears out.  How come we throw those words out lightly? I'm afraid it is most likely similar to what Prophet Muhammad SAW once told us as in Sunan Ibnu Majah (4058): "My people's generations will be divided into 5 phase: 40 years of  ahlu taqwa and ahlu birri (love to do good things), followed by 80 years of people with closest characters like the first ones, continued by 40 years of people loving and caring each other and people like them, then years of generations of hatred and broken family brotherhood, finished by years of killing each other." Although it's barely the third phase, I’ve no words rather than pray in order to beg God not to let His guard down over me. And over all muslims. Aamiiin.

Senin, 15 Februari 2016

Sabtu, 12 Desember 2015

Nampar atau Nabok atau Apa? XD

Iya sih, sedini mungkin semestinya seorang anak dikenalkan dengan batasan mahrom. Tapi terkadang sulit menghindari kontak kulit dengan bocah lawan jenis.
Iya sih, semestinya pendidik harus punya banyak alternatif cara menangani setiap anak. Tapi saya pun masih belajar, belum semua karakter anak saya kuasai cara berkomunikasinya.
Terkadang, ketika anak kinestetik mulai beraksi, saya kewalahan. Menurut ilmu parenting skill, cara "memenangkan" dan menenangkan anak kecil yang paling ampuh adalah dengan berbicara menatap langsung mata si anak sembari menyesuaikan tingginya dan memegang tangan atau bahunya dengan lembut dan hangat. Atau jika tujuannya menasihati, lebih baik lagi sambil mengelus kepalanya. Jadi bagaimana menerapkan teori tersebut pada anak kecil lawan jenis sambil tetap menanamkan pemahaman batasan mahrom padanya? Di situlah saya masih kesulitan. Lagi pula saya bukan tipe penyabar. Dalam artian, ketika ucapan saya kurang membuahkan hasil saya cenderung langsung turun tangan menenangkan si anak seperti cara di atas. Pada akhirnya, kepada anak kecil laki-laki saya lebih sering menggunakan isyarat tangan seakan-akan saya sedang memegang pipinya atau pundaknya atau tangannya. Sempat terlintas, rasa-rasanya kalau dilihat sekilas malah seakan saya menamparnya atau memukul angin tapi dengan tujuan bahu/tangan si anak. Haha. Ya sudah, yang penting niat saya baik.
Baiklah, akan saya pikirkan lebih dalam. Biasanya asal saya pikirkan baik-baik, Alloh memberi ilham pada saya. Namun kalau pembaca punya solusi lebih nyaman, bagi dong :)
Thanks.

Rabu, 18 November 2015

This is Me

Saya selalu tertawa gila setiap membaca ulang goresan maya masa lampau di blog ini. Utamanya  masalah cinta monyet. Bukan apa-apa, hanya, rasanya segala yang berkaitan dengannya saya ekspresikan dengan begitu alay-nya. Kalau mau jujur, sebenarnya kata alay tepat disematkan untuk hampir SELURUH post di sini, lebih-lebih yang ditulis sebelum tahun 2011. Masa-masa awal lahirnya blog ini. Masa-masa saya masih menelan pelajaran Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, juga muatan lokal Bahasa Jawa dan pramuka. Masa-masa terpukau dengan taglineThe Research School of Jogja” yang terpampang di pintu utama sekolah kami –sekarang masih sih, tapi dari kejauhan-.
Sebelumnya, mungkin terasa wagu saya yang sebelumnya lancar menggunakan “aku” dan “kamu” tiba-tiba menjadi “saya” dan “kamu”, pun dari kata-kata slang bertebaran dimana-mana menjadi minim kata slang. Sederhana saja, saya ingin pengunjung lebih nyaman dengan transformasi ini, selain karena ingin menunjukkan bahwa saya masih berusaha memperbaiki diri dalam segala aspek. Tapi tenang saja, saya tetap tipe the girl next door –a la Indonesia tentunya- yang di saat tak terduga penuh kegilaan. Saya tidak akan heran jikalau kamu pernah mendapati saya sedang menirukan suara kucing, mobil balap bahkan babi. Plus ekspresinya, untuk yang terakhir disebut. Saya juga masih Dina Ardihani yang berperilaku memalukan dan terkadang membuat saudara-saudari saya mengaku tidak kenal dengan saya. Heheh.
Kembali ke topik, saya melabeli kisah cinta monyet saya dengan kata “alay” tak kurang karena apa yang saya tulis tidak terlewat dari melebih-lebihkan baik kejadian faktualnya maupun mimpinya. Iya, mimpi. Karena salah satu post tentang cinta monyet di sini merupakan hasil kembang tidur saya. Selain itu, semua yang saya tulis toh hanya dari sudut pandang saya. Memang benar, saya sempat menunjukkan rasa suka saya pada seorang teman sekolah –yang mana terjadi sekali di SMP dan sekali di SMA- namun yang terjadi sebenarnya adalah, saya berusaha sebisanya bersikap biasa-biasa saja pada orang itu tapi ternyata dia tetap sadar bahwa saya memperlakukannya berbeda dari teman lelaki lain. Tidak penting? Iya, memang tidak penting. Lucu? Silakan tersenyum. Ironis? Silakan tertawa miring. Saat SMP, saya bahkan sempat napak tilas tempat dia, sebut saja R, bermain dengan teman-temannya menggunakan sepeda. Bukan stalking, karena saya tiba saat mereka sudah jauh pergi entah kemana. Namun tetap memalukan karena saya melakukannya setelah tidak sengaja mendengar rencana mereka menyambangi tempat tersebut. Dan hanya karena ingin tahu bagaimana dia jika di luar sekolah. Lebih freak lagi, saya sempat beberapa kali sengaja pulang lewat area yang saya duga –dari hasil cerita teman SDnya yang kebetulan sekelas dengan saya- adalah wilayah tempat dia tinggal hanya agar tahu dimana persisnya rumahnya –yang di kemudian hari saya beralasan padanya, walau memang benar, adik saya sekolah di sekitar situ-. Puncaknya, saya tahu kalau dia sadar saya menyukainya ketika suatu saat saya berangkat mruput sementara dia sudah di sekolah sedang bercengkerama dengan teman-teman dekatnya di bawah ring basket, langkah saya mendadak terhenti sendiri dan ragu bercampur malas untuk menapak lebih dalam. Bukan untuk mengamati dia, justru ingin menghindar. Rupanya meski tubuh bagian atas saya terhalang mading dia sadar itu saya dan tiba-tiba dia berlagak dengan dribbling bola basket dilanjutkan shooting. Kalau saja teman dekat saya tidak bertanya alasan saya belum masuk kelas, saat itu saya akan lebih memilih tetap sembunyi di balik mading, membaca koran dan pura-pura tidak melihat apa yang dia lakukan. Setelah saya masuk kelas –yang berarti harus melewati dia dan teman-temannya dulu- dia menghentikan permainan basketnya dan kembali berbincang dengan kawan-kawannya. Yang mengejutkan, beberapa saat yang lalu ketika saya melihatnya lagi untuk pertama kali setelah delapan tahun dalam suatu reuni, i just felt nothing. Literaly not-even-a-single-thing. Hanya tersentak dengan perubahan drastis pada fisik maupun perilakunya. Berarti, dua tahun perasaan itu tidaklah cukup bermakna bagi saya. Sungguh melegakan, karena seharusnya saya tidak melanggar prinsip saya, hanya menaruh perasaan pada teman sepengajian. Bagaimanapun, ketika SMA saya kembali memandang beda terhadap seorang teman sekelas saya. Satu peristiwa paling nekat yang masih saya ingat –dan saya sesali kini-, saya sempat mengirim pesan via FB padanya, sebut saja si E. Isinya biasa saja: menanyakan kabar, minta maaf akan hal yang sebenarnya tak perlu, tapi untuk ukuran saya saat itu yang dikenal dengan perangai pendiam, tidak banyak polah, tertutup –apa bedanya dengan sekarang ya? Haha- isi pesan tersebut sudah tergolong alay/memalukan atau apalah itu istilahnya. Alhamdulillah, tidak pernah ada balasan dari E. Namun sejak itu, beberapa kali terjadi sesuatu yang saya ragu apakah berhubungan dengan pesan tersebut atau saya saja yang gegedhen rumongso: ketika saya online di FB dan dia sudah online lebih dulu, tiba-tiba dia offline tak sampai 10 menit kemudian. Alhamdulillah, lambat laun menjadi biasa saja bahkan saya menjadikannya guyonan pada diri sendiri; saya mencoba menghitung rekor berapa lama si E tetap online sementara saya juga online. Pada akhirnya, sejak wisuda kelulusan saya tidak pernah bertemu lagi dengannya dan, Alhamdulilah, bisa dibilang hampir tidak pernah dia terlintas di pikiran saya. Kalaupun pernah, itu kebetulan karena saya bertemu dan bernostalgia dengan tetangga sekaligus teman sekelas saya dan si E. Tetap saja kini saya menyesal telah dua kali melanggar prinsip saya sendiri.
Ketika saya telah menjadi mahasiswa, beberapa kali saya “melihat” teman sepengajian dengan cara berbeda. Tapi rerata hanya melibatkan kekaguman dan tidak sampai suka. Indikator saya mengatakan saya hanya kagum atau suka, bila saya sampai menyukai seorang lawan jenis biasanya orang itu muncul dalam mimpi meski cerita dan peran orang tersebut dalam mimpi saya tidak istimewa –mungkin bisa dibilang semacam cameo-. Hanya satu yang berdampak cukup serius dalam hati, dan tak sampai setahun kemudian dia menikah dengan teman sepengajian lain yang juga seangkatan saya. Hahaha.
Waktu terus bergulir maju, tapi saya masih “trauma” dengan patah hati tersebut. Semakin hari justru saya makin menutup diri dari “cinta pada lawan jenis”. Kalau sekadar kagum tetap ada, entah itu pada yang lebih tua, sepantaran bahkan lebih muda. Pada dasarnya, saya lemah terhadap orang-orang (lebih tepatnya laki-laki) yang kefahaman agamanya kuat. Tentu, tidak bermaksud munafik, saya juga senang menilai fisik seperti rupa dan harta, tapi yang membuat hati saya menjadi rentan dan kemudian membiarkan seorang laki-laki muncul dalam mimpi –engkau salah kalau membayangkan mimpi yang liar- justru ketakwaannya pada Ilahi, menjaganya pada tuturnya, ilmu agama yang dimilikinya, kepeduliannya pada orang lain –dengan tidak membiarkan orang di sekitarnya terjerumus dalam kesalahan- dan semua aspek umum dari seorang hamba yang solih. Namun tetap saja, semenjak trauma tersebut sikap skeptis saya menguat. Saya merasa belum siap untuk patah lagi. Efeknya, terhadap lawan jenis nonmahrom siapapun itu saya cenderung apatis, walau sebenarnya sejak dulu juga apatis terhadap laki-laki, apalagi terhadap orang yang padanya saya menyimpan rasa. Saya batasi setiap rasa kagum agar tidak berkembang menjadi suka dan berkilah pada diri sendiri bahwa dengan bersikap seperti itu apa yang tersimpan dalam sanubari saya akan pudar juga, sehingga tidak perlu ada benak yang mencelos jika suatu saat terdengar kabar bahagia dari orang itu. Ibaratnya, laiknya seorang pecundang, saya sudah menyerah sebelum perang. Lagi pula, saya selalu merasa belum cukup baik untuk membersamai orang yang saya sukai. Ia pantas bersama perempuan yang lebih baik akhlaknya, peduli pada orang lain dan faham agama. Masih jauh diri ini dari status solihah. Hingga di suatu titik, saya merenung: jangan-jangan selama ini gayung tidak bersambut karena saya tidak cukup serius menyukai seseorang: menyimpan semua di hati, berharap dalam diam namun tidak menyerahkan perkara pada Yang punya semua perkara dan Maha Mengubah hati. Maka saya meyakinkan diri sendiri: Jika kamu benar menyukainya, segera sebutkan namanya dalam mohonmu padaNya, baru setelah itu berharaplah dia menyebut namamu juga. Alhamdulillah, praktik sudah terlaksana. Kali ini, saya menjaga perasaan tersebut. Meski tetap ada gundah apalah diri ini dibanding orang mulia lagi terjaga seperti dia, di sisi lain berkat Alloh saya merasa sanggup lebih legowo seburuk apapun perasaan tersebut berakhir nanti. Saya tidak bisa menceritakan apapun tentang yang satu ini karena semua telah saya serahkan padaNya. Yang jelas, lagi-lagi saya jatuh hati karena kefahamannya. Jika memang sudah jodoh pasti akan datang.

Mencintai itu indah
Berharap memang membuat rindu
[Tapi] relanya hati hanya ada karena manisnya iman
Baiklah, saya rasa cukup demikian bab urusan hati. Ini saja sudah luar biasa mengingat saya introvert parah terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hati/perasaan. Benar, di kehidupan nyata maupun maya (re: medsos) saya memang hampir tidak pernah menunjukkan hal-hal pribadi yang mengarah pada perasaan. Hei kau, siapapun kau yang membaca tulisan ini, saya sungguh berharap kamu bisa memetik hikmah dari pengalaman saya. Bahwa jangan sampai kamu terjerembab dalam lubang keledai yang sama seperti saya. Bahwa Tuhan mengasihimu lebih dari cinta seseorang padamu, maka kembalikan semua padaNya dan persembahkan cinta terbaikmu padaNya sebelum serahkan hatimu pada makhlukNya.

Kamis, 19 Desember 2013

.:Just Few Thoughts:.

Saya selalu berpikir,
"Kerjakan saja, tak masalah orang lain tak tahu, yang penting kamu berkontribusi" 
 Banyak baiknya berkeyakinan seperti itu. Terutama jika dikaitkan dengan riya. Mudah sekali mengatakan 'saya tidak pamer' tapi kenyataannya sulit mencegah hati dan mulut. Mungkin kamu tidak berniat mengisahkan kebaikan dan pengorbanan yang telah lalu, tapi suatu kondisi menggelitikmu hingga tak kamu sadari cerita pun terluncur dari bibir.
"Aku pernah seharian bla bla bla demi bla bla bla, sudah begitu tidak ada yang membantu. Padahal waktu itu aku baru saja pulang dari bla bla bla dan bla bla bla"
Kesannya memang berbagi cerita saja, tapi kalau ternyata ketika itu niatmu sudah karena Alloh lalu sekarang kau ceritakan (tanpa diminta)... hanguslah sudah pahalanya. Tak bersisa setetespun. Kejam? Memang.
Tentu saja ada pengecualian. Misalnya, dalam CV, tentu kamu harus menyebutkan selengkap mungkin pengalaman berorganisasi dan prestasimu karena itu sangat berpengaruh terhadap diterima-tidaknya dirimu. Begitu pun untuk memotivasi orang lain supaya tergerak memperbaiki kualitas diri, ceritakan secukupnya.
Yang penting tidak dilebih-lebihkan :)

Kamis, 19 Agustus 2010

Intermeso...

   Wah wah wah... aku tidak pernah mengira jumlah visitornya 164... 164! 164! 164! (berubah jadi tante girang) heran, benar-benar heran... ada ya orang yang menengok blog ini selain aku sendiri? (tertawa miring) Memang, belum lama ini ada seorang teman dekatku sejak SMP yang mengaku membaca blogku... tapi tetap saja merasa keki: apakah berarti aku begitu memprihatinkannya? hingga blog selalu kubuka hampir setiap kali aku berselancar... lol. Padahal sudah lumayan lama aku tidak mengunjungi tempat ini, (sok) sibuk sih... ahaha, bercanda. yang benar adalah:
1. Koneksi (Wahai Bapak Alwi Shahab, ampuni saya kalau pemakaian kata 'koneksi' dan bukan 'hubungan' ini merupakan pelanggaran kaidah KBBI) Speedy di rumahku beberapa minggu akhir ini memang sering mengalami masalah... hffftttt... (mendengus dengan bibir mencucu)
2. Aku sedang mempersiapkan sebuah --atau beberapa-- postingan yang agak spesial dilihat dari isinya -setidaknya menurutku sendiri, hahaha-. Tambahan, aku ingin memenuhi janjiku.
   Baik, sepertinya itu dulu yang aku tulis kali ini. Aku sangat sangat berharap impianku menciptakan dua blog baru nyata terwujud. Satu blog khusus perihal yang menyangkut Biologi --yang kuharap akan membantu anak-anak di jenjang SMP-- dan lainnya blog yang rencananya akan murni berisi karya-karya kesusastraanku, entah cerita pendek, novel, puisi, pantun, dan lain-lain yang tentu masih berkaitan dengan bahasa dan sastra.
   Siapapun kalian yang membaca blogku, sampai jumpa lagi! Terima kasih atas kunjungan kalian!

Selasa, 06 Juli 2010

Chicken Soup 2

         Kalau dipikir-pikir, aku ini norak. Pake banget malah. Terutama, dalam hal, hm, menyukai cowok. Hahaha, walaupun aku nggak akan melupakan kekonyolanku itu, aku tidak akan mau menuliskannya di sini. Tapi sebenarnya sudah ada contoh kenorakanku. Dalam postingan berjudul Corezon Secreto, yang akhirnya kuhapus setelah sempat nangkring di blog ini selama beberapa hari. Memalukan sekali, melihat diriku yang terkesan “murahan” seperti itu. Seharusnya aku bisa mengerem dan menahan diriku sendiri sampai taraf menyimpan segalanya hanya dalam hati. Biarlah hati, pikiran dan diriku sendiri saja,beserta Allah, tentu, yang tahu dan melihat rasa suka itu. Pun, sebenarnya yang norak bukan hanya si-postingan-malang-yang-telah-kuhapus-itu, tapi juga satu postingan lagi yang muncul karena keedananku waktu itu, postingan yang berjudul Caldo de Gallina; Pero pequino Grando. Hanya saja, motif penulisan postingan itu semata karena menurutku isinya cukup bagus untuk digubah jadi cerita. Aku ingin tahu komentar orang-orang yang membacanya. (Kalau memang benar ada orang selain aku sendiri yang mengunjungi blog ini, hahaha). Aku ingin dia tahu, aku menyesal telah menunjukkan rasa sukaku padanya, meski perasaan itu sendiri tak akan pernah kusesali. Tak masalah dia tak ingat aku, karena yang kuambil dari semua itu cukup pengalaman berharga tentang bagaimana rasanya menyukai seseorang. OK, itu hanya sekadar intermezzo. Yang sesungguhnya ingin kuutarakan dalam postingan kali ini bukan tulisan di atas, meski masih ada kaitannya dengan kalimat-kalimat setelah ini.
    Ada begitu banyak aspek kehidupan yang bisa ditulis, dan aku heran mendapati diriku, beberapa minggu terakhir ini, dengan latahnya terjebak dalam satu tema yang klise lagi monoton: cinta terhadap lawan jenis. A ha ha ha ha, betapa menyebalkannya, menyinyir tajam kepada biduan-biduanita zaman sekarang yang hampir kesemuanya bersesakan di jalur pop –dengan embel-embel warna yang berbeda—dan mengangkat tema ini, tapi sendirinya ternyata juga tak habis-habisnya berkoar tentang tema itu, eh? Humm, barang kali waktu itu aku sedang didominasi sifat melankolisku, seperti kata Florence Littauer. Dan aku gembira menyadari aku kini akan segera kembali menuliskan hal-hal yang lebih menarik dibahas daripada postinganku mengenai tema tersebut di atas.
    Keluarga? Ahai, topik ini memang sudah biasa, namun seperti lagu tema Keluarga Cemara, keluarga adalah segalanya. Aku tak pernah bosan dan merasa kehabisan bahan perbincangan akan yang satu ini. Benar sekali isi lagu itu:
Harta yang paling berharga adaah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Tempat yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
    Setiap keluarga mempunyai sisi gelap dan terangnya masing-masing. Namun aku lebih senang menuliskan ingatanku akan kebaikan keluargaku, seperti juga aku lebih suka mengingat-ingat kebaikan teman-temanku daripada kesalahan dan keburukannya. Ah, tentu saja tanpa melewatkan sikap waspada. Bukankah lebih membahagiakan seperti itu? Ayahku adalah orang yang paling sering memberiku petuah berharga mengenai bagaimana menghadapi hidup yang jelas tak semudah mengedipkan mata. Memang, di pengajian kami secara tak sadar juga diajari bagaimana tetap menjadi hambaNya yang takwa di dunia yang makin sekarat ini. Tapi ayah membeberkan hal yang lebih universal. Bagaimana caranya agar kepala tetap tegak sementara ombak dahsyat menggempur dari segala arah; bagaimana caranya agar tidak terseret bahkan terbunuh oleh keadaan itu; bagaimana  caranya menyemangati diri sendiri ketika jurang terjal tampak di depan mata; bagaimana caranya mengukuhkan hati agar tetap dalam jalan yang benar; dan masih banyak nasihat berharga lainnya. Ibuku sendiri, lebih sering menasihati anak-anaknya mengenai harapan-harapan beliau akan anak-anak yang bisa diandalkan dengan segala amalan baik kami.
    Hm, kukira, cukup sampai di sini aku berkisah. Ternyata menulis tentang keluarga bukan hal yang mudah. Aku tidak ingin menulis sembarangan. Mudah-mudahan aku bisa segera menceritakan keluargaku lagi.
    Eh, omong-omong, aku senang kini bisa melaksanakan janjiku dulu untuk tetap berolahraga meski tidak ada pelajaran olahraga lagi. Yeah! ;d

Jumat, 11 Juni 2010

My Ordinary Life

               Bakayarou. Aku ingin dan sedang berusaha mencari arti nama kata itu. Kalau di buku belajar bahasa Jepang kak Anisa tidak ada aku akan cari di tempat lain. Penasaran. Dan ternyataaa, itu salah satu kata makian, kurang lebih bermakna "Kamu pintar tolol!"
    Baru sembuh dari flu ringan, kutengok langit. Duh, mendung lagi. Aku teringat, kemarin, dengan coat-kulit-berbulu milik ibu melekat di tubuh gegara flu, aku menjemur cucian yang tak sempat dijemur ibu, setelah memberesi jemuran hari sebelumnya tentu, padahal aku tipe orang yang gampang berkeringat. Lah... baru sebagian terjemur, tetiba "tes... tes... tes... bresh....." yah, akhirnya pakaian kumasukkan kembali, sekaligus meneduhkan handuk & baju tidur, lalu meneruskan menjemur dalam rumah. Turun lalu istirahat dengan badan penuh peluh.
    Aku tidak suka sakit jika melihat keluargaku. Karena aku jadi tidak bisa maksimal dalam meringankan kerepotan ayah-ibu dan saudaraku. Aku juga tidak suka sakit bila mengingat teman-temanku. Karena aku jadi tidak bisa ikut tertawa bersama mereka, apalagi membuat mereka senang. Lagi pula, tiga hari lagi adikku ulang tahun. Dua hari lagi aku akan bertemu terakhir kalinya dengan teman-teman sekolahku sebagai sesama pelajar melalui wisuda. Itulah mengapa, sekarang aku berharap panasku segera turun sehingga aku bisa segera menggulung lengan baju dan menjalani semua kembali.
    Wah jan (opo ‘wajan’ sisan wae yo? Hihihi) ra penting tenan, nulis ra ana juntrungane kaya ngunu. O.K., ganti topik.
    Kalau dipikir-pikir, orang Indonesia hebat dalam hal bahasa ya? Masa, tiap suku punya bahasa daerah sendiri-sendiri tapi juga punya dan memakai bahasa nasional Indonesia... berarti setidaknya tiap orang bisa dwibahasa dong... walau satu lokal satu lagi nasional. Belum lagi kalau menguasai bahasa Inggris dan bahasa slang, berarti kan jadi tri/caturbahasa... (lama-lama jadi caturbahasa, pancabahasa, heptabahasa, blah, blah, blah... ) Kan bagus tuh? Coba bangsa lain, kan belum tentu tiap daerahnya punya bahasa yang bhinneka laiknya Indonesia tertjintah? Yang sering justru satu bahasa dengan banyak logat. Jadi makin bangga sebagai anak Indomienesia nih. Asal tidak setiap situasi menerapkan bahasa slang saja. Alay (atau bhay, kalau kata adik kelasku)
    Kata Seneca, “Semua kekejaman muncul dari kelemahan”. Just like me, I think. ToT
Sebab nyatanya aku memproyeksikan kelemahanku dalam menghadapi seorang teman antagonis zaman SD menjadi kekejaman tingkat akut terhadap adik-adikku... Menyedihkan sekali, orang dengan sifat seperti ini. Tidak bisa menghadapi masalah dengan kekuatan hati dan moral. Aku bukannya kasihan pada diriku, atau pada orang sepertiku, tapi kasihan pada korban yang bertimbulan karena perbuatan orang sepertiku. Bahkan seakan tidak cukup, aku membuat mereka marah padaku. Padahal aku yakin aku sayang mereka, terutama keluargaku. Ingin membahagiakan mereka. Ingin membela mereka bila mereka benar. Ingin terus berada bersama mereka. Terus mendukung mereka walau sembunyi-sembunyi. Padahal dalam hati aku selalu menegaskan aku mencintai mereka. Selalu dan selamanya. Tapi buktinya? Masih saja aku sering menyakiti mereka. Dan, mengherankan sekaligus membuatku bersyukur sekali, orang dengan tabiat jelek sepertiku ini, bisa-bisanya dianugrahi hidayah Quran Hadis oleh Allah. Tiket untuk masuk surga. Kesempatan paling luar biasa yang langka. Sangat langka, maksudku. Langka karena kemungkinan ditemukannya 1 diantara 100.000 orang di dunia fana  ini. Alhamdulillah... Sebaliknya, miris, miris sekali, orang-orang yang justru jelas memiliki hati yang mulia, orang-orang seperti Lady Di yang disayangi banyak orang dan Bunda Theresa yang dikenang begitu banyak orang karena pengabdian keduanya yang luar biasa pada masyarakat, atau orang secerdas Albert Einstein, yang begitu besar jasanya dalam IPTEK hingga menjadi simbol kecerdasan, tidak terciprat hidayah ini. Sungguh, sayang sekali.

Sabtu, 05 Juni 2010

A Story (session 2)

Seperti apakah rasanya tak bisa mendapatkan apa yang sangat, sangat diinginkan? Apakah kamu akan menangisinya –terasa kekanak-kanakan, memang—, atau akan menghela napas berat agar matamu yang hampir menumpahkan air mata menjadi lega kembali, ataukah akan mematung sejenak lalu tersenyum pahit sambil berkata dalam hati: “tak apa-apa, masih ada hari esok. Toh aku tidak mati hanya karena impianku tidak tercapai”? Ketiganya menunjukkan kedewasaanmu. Barang kali, aku termasuk yang tengah.
    Jarang sekali aku menggantikan ibu mengurus rumah selama seharian penuh. Biasanya itu hanya terjadi saat ibu harus ke rumah bersalin, sehingga selama satu-dua hari  (dan minimal semalam) tidak berada di rumah, itu pun seingatku baru 3 kali, sejak aku, bukan kakakku, sudah cukup besar untuk bisa diamanati ibu melakukannya. Tapi kali ini, ibu terpaksa berada di luar rumah seharian karena suatu hal yang sudah pasti  berbeda dengan keadaan sebelumnya. Karena kedua kakakku sedang pergi –yang paling tua ke Bandung dan lainnya rapat organisasi—dan adik-adikku sedang maupun akan menghadapi ujian semesteran serta ayahku sedang mengikuti rekreasi kantor tempat beliau bekerja, ibu pun memilih aku kembali sebagai orang yang beliau amanati untuk menjaga dan mengurus rumah. Sedari maghrib hingga pagi buta, lalu karena dua adikku yang masih TK harus datang dalam lomba marching band sekabupaten, ibu pergi kembali dari 2 jam berikutnya hingga pukul 12:00, dan tak sampai 1 jam kemudian pergi ke gedung Mandala Bhakti Wanitatama dalam rangka memenuhi undangan resepsi pernikahan. Otomatis, aku mesti menyelesaikan semua pekerjaan yang biasa ibu lakukan pada jam-jam itu. Memang pada malam harinya, adik pertamaku yang bernama Diah, yang kuamati sebenarnya cukup peduli dengan tanggung jawab ibu ini, sempat membantuku mencuci piring-piring, sendok-sendok, garpu-garpu, gelas-gelas, wadah-wadah bekal nasi serta panci-panci kotor yang menumpuk begitu banyak sehingga aku hanya bersemangat menatanya saja tanpa melibatkan diri mencucinya serta pada pagi harinya menyetrikakan atribut perang adikku yang hendak mengikuti lomba. ‘Kerja bakti’ku sendiri, entahlah... menyebutkannya satu persatu pasti akan membuatmu bosan dan lama-lama mendengkur, hahaha. Sebenarnya tak masalah seberapa banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, karena aku memang telah berjanji dalam hati akan membantu ibu sebanyak mungkin bila telah datang waktunya aku memiliki banyak waktu luang tanpa harus sekolah dan tetek bengeknya. Yang menjadi problem adalah, aku tipe orang yang mudah berkeringat dan dengan begitu mudah kepanasan –apa ada hubungannya dengan kulit hipersensitifku? Hm, aku yakin akan segera mengetahuinya bila sudah mulai kuliah nanti—sehingga pekerjaan biasa seperti menyetrika baju-baju ayah ibu dan adik-adikku, menyapu halaman dan mencuci pakaian secara manual pun –mesin cuci kami sudah lama rusak, hahaha- sanggup membuatku banjir keringat plus bermuka merah padam layaknya sehabis lari keliling komplek sekitar sekolah 2 kali saat ujian olahraga dahulu, akibat aku selalu tak ingin melakukan segala hal secara sembrono dan asal-asalan, melainkan harus sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Dan aku tak menyukai fakta itu. Maka sebisa mungkin selama ini aku menghindar dari pekerjaan itu. Sayangnya... kali ini aku jelas tak bisa, dengan keadaan rumah yang begitu sepi karena para penghuninya sedang sekolah atau kuliah atau lainnya, hanya ada adikku yang terkecil dan aku. Alhasil, aku menghabiskan 2 jam hanya untuk menyikat 2 ember besar + 1 baskom-yang-lebih-besar-lagi pakaian kotor keluargaku, air asin menetes-netes dari pelipis, anak-anak rambut hampir menutupi kening –yang keadaannya mirip dengan Mulan setelah diterjang badai gurun pasir dalam live movie berjudul si tokoh tersebut--, dan punggung –atau boyok, eh?—pegal tanpa ampun. Lengkap dah, tinggal ganti nama jadi Mbok Inem atau si Inah atau Mbak Yem. Hahaha.
    OK, kembali ke fokus awal. Hubungan aku-harus-mengganti-posisi-ibu dengan aku-termasuk-kategori-kedua adalah, setelah ibu pulang dari mengantar dan menemani dua adik dari mengikuti lomba marching band dan kebetulan aku baru saja selesai menjemur, aku jadi ingin sekali ikut ibu menghadiri resepsi pernikahan, karena sebelumnya aku jengkel sekali –dan kemudian mengaku stress pada ibuku, haha- mendapati kenyataan tak ada saudara lain selain Diah yang mau membantu. Maka tak ada salahnya aku mencari sedikit hiburan dengan ikut pergi ke acara itu. Barang kali karena saking jengkelnya aku saat itu sampai-sampai aku begitu ingin ikut pergi dan tidak memikirkan hal lain seperti, siapakah yang akan menjaga rumah bila aku juga pergi? Meski saat itu kakakku sudah pulang dari rapat, bukan berarti dia mau menjaga rumah karena masih ada kegiatan lain yang mesti dilakukannya, atau apakah tak masalah meninggalkan adik terkecil hanya dirawat oleh enam kakaknya yang baru duduk di bangku TK dan SD? Maka pertanyaan-pertanyaan itulah yang diajukan ibuku setelah aku menyampaikan keinginanku. Aku langsung terdiam, bertambah parah saat seorang adik berkata pada ibu dia ingin ikut pula. Akhirnya dia pun turut pergi dengan ibu setelah ibu menyuruhnya bertanya padaku –barang kali karena melihat perubahan air mukaku saat ibu menyampaikan keberatannya atas keikutsertaanku-- apakah boleh dia ikut, menggantikan si-calon-pertama-yang-tak-lain-aku-sendiri. Aku sendiri merasa tak keberatan tentang siapa atau apakah ada yang akhirnya ikut ibu, tapi tenggorokanku langsung tersumbat kencang saat itu juga –meski kau salah besar jika mengira air mata menetes keluar juga--. Memalukan ya? Hanya karena sedih gagal menghibur diri dari kejengkelan yang sebenarnya tak perlu saja, bereaksi seperti ini. Hem, tapi aku bersyukur sekali, eh, coba kuulangi, aku betul-betul bersyukur, dalam urusan  perasaan terhadap lawan jenis, --seperti yang telah aku ceritakan di sini—aku tak pernah benar-benar merasa depresi atau sedih menghadapi keinginan yang tak tercapai. Atau secara simbolisnya, aku cukup percaya diri mengatakan aku termasuk golongan terakhir dalam hal ini. Hahaha. Peace! (^0^)”

A Story

Pernahkah kamu merenung, seberapa jauh kau sudah membalas kebaikan-kebaikan, kasih sayang, dan pengabdian ibumu? Sempatkah kamu berpikir betapa kamu telah durhaka karena sampai saat ini pun tidak mampu mengimbangi semua yang telah diberi ibumu? Apakah terlintas di benakmu, selama ini diam-diam ibumu menitikkan air mata melihat ulahmu-yang-tidak-berterima-kasih?
    Itu semua kurasakan. Dan dengan jujur kukatakan dengan kepedihan, aku tidak benar-benar mendapati diriku menyesal hingga rasanya dadaku bergemuruh sesak mengetahui diriku separah itu. Setiap saat.
    Kami keluarga besar, dalam arti sebenarnya. Memiliki 13 anak dengan anak paling besar sedang kuliah semester akhir dan anak paling kecil baru 2 tahun,  kedua orang tuaku harus bekerja keras menghidupi dan mendidik anak-anaknya. Dan ibuku, beliau sendirian mengurus anak-anaknya yang kesemuanya belum mencari nafkah sendiri. Benar, tak ada asisten rumah tangga yang bisa meringankan pekerjaan ibuku. Ini terjadi sejak tahun 2001, atau seingatku, saat anak terkecil adalah adik ke-5ku. Maka, meski tak ada hubungannya dengan jumlah anak –sebab setiap anak memang mempunyai kewajiban berbakti pada orang tuanya-, sudah sepantasnya kami anak-anak beliau membantunya mengurus rumah.
    Selama ini, aku selalu berpikir aku harus mengurus rumah –mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, mengurus adik-adikku, membersihkan rumah, de el el- karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuat ibuku tersenyum. Walaupun banyak hal kecil lain kulakukan pula untuk membuat beliau senang. Tapi bagiku mengurus rumahlah yang paling penting. Itu memang sudah benar. Tapi nyatanya? Jarang sekali dalam sehari aku membantu ibuku. Entah karena aku terlalu sibuk, pergi sekolah jam 07:00 dan sampai rumah 14:00 lalu mengaji empat hari dalam seminggu –Senin, Rabu, Kamis, Jumat- dari pukul 20:00 sampai 22:00 atau les dari pulang sekolah sampai maghrib, atau latihan asad dari 16:00 sampai maghrib pada hari Jumat, atau GP tiap hari Sabtu -pukul 16:00 hingga esoknya jam 06:00- atau Minggu –dari jam 09:00 sampai 15:00-, dimana berarti aku hanya punya waktu kosong untuk tinggal di rumah mengurus rumah tanpa seharian menghilang dari rumah pada hari Selasa. Itupun kalau aku tidak punya acara yang kutempatkan di hari itu karena tidak ada waktu di lain hari. Belum lagi aktivitas pribadiku yang tidak ada hubungannya dengan mengurus rumah, yang mau tidak mau juga turut menguras habis waktu yang tersisa untuk mengurus rumah dan berarti juga mengurus adik-adikku, serta kemalasan-kemalasanku membantu ibu dengan alasan capai setelah seharian pergi. Padahal itu semua hanya karena aku tidak bisa memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik untuk menolong tugas rumah ibuku.
    Ibu mengasuh kami semua dengan penuh kesabaran ketika kami masih terlalu lemah untuk mengurus diri sendiri, meskipun, sebagai dampak kekurangajaran kami pascamasa anak-anak, ibu kini sering marah pada kami. Suatu pencapaian luar biasa yang akan dirayakan besar-besaran oleh iblis dan bala tentaranya. Suatu kali, aku sedang mengisi botol air putih di dapur dengan kasar akibat kesal tidak ada yang ikut, dengan cukup andil, membantuku seharian membereskan rumah. Ibu yang baru saja pulang dari mencari nafkah berkata padaku, “Kamu baru sehari mengurus rumah saja sudah kesal, apalagi ibu? Ibu dulu mengurus kalian semua sendirian karena kalian masih kecil-kecil, tidak ada yang bisa membantu ibu. Padahal asisten rumah tangga sudah tidak ada waktu itu, dan ibu melakukan itu tiap hari. Begitu terus hingga adikmu yang terakhir. Nah, kamu bisa bayangkan tidak, betapa beratnya pekerjaan ibu?” Jujur, aku tidak melewatkan begitu saja kata-kata ibu dari kuping kanan ke kuping kiri, tapi kenapa, kenapa hatiku tak merasa sesak? Kenapa seakan-akan aku hanya berpikir aku merasa sedih? Padahal dahulu aku selalu sanggup meneteskan air mata bila ibu mengeluh serta menasihatiku demikian. Apakah ini karena aku semakin kurang ajar pada ibuku? Apa karena hatiku semakin tidak sensitif terhadap kebaikan? Atau karena aku merasa sudah cukup berbakti pada ibuku? Ataukah karena ketiga-tiganya? ... aku sungguh berharap tak satupun dari ketiganya menjadi penyebab sikapku ini.
    Aku berusaha menjemur tiap hari, merapikan dan membersihkan meja makan serta dapur, mencuci piring-piring keluargaku, merapikan dan menyapu seluruh lantai dan halaman rumah, menyetrikakan seragam adik-adikku, melipat baju-baju saudaraku dan pakaian-pakaian ayah ibuku, memandikan adik-adikku yang masih TK dan bayi, menyuapi adikku, membersihkan rumah serta menjaga rumah saat ibuku pergi. Tapi itu JELAS kurang. Dibandingkan dengan semua barang dan jasa yang telah ibu dan ayah berikan padaku serta beratnya beban pekerjaan ibuku? Itu jelas bukan apa-apa. KENAPA aku masih seperti ini? Kenapa hingga kinipun aku masih saja tidak banyak membantu ibuku? KENAPA? Aku selalu berusaha membantu ibuku, terutama bila ibu berpesan supaya aku menjaga rumah saat ibu pergi mencari nafkah tambahan untuk mulut-mulut kami. Ibu sendiri pernah berkata, aku paling peka terhadap pekerjaan rumah dibanding saudara-saudaraku yang lain. Tapi kenapa, kenapa kenyataannya aku JARANG bisa seharian penuh mengurus rumah? Kenapa aku sering ikut bermalas-malasan melihat saudaraku juga tidak tergerak untuk membereskan rumah? Kenapa aku begini parahnya? Kenapa kami, khususnya aku, selalu membuat hati ibuku mendung? Kenapa kami jarang sekali bisa membuat ibu tersenyum melihat karya kami dalam berbakti pada beliau? Kenapa dahulu dengan sekarang baktiku pada ibu sama saja? Kenapa tidak ada kemajuan sedikitpun terhadap baktiku yang sangat minim ini dari dulu hingga kini? Aku gagal menjadi anak yang berbakti apalagi sholihah, meski selalu kuyakinkan pada diriku, masih ada kesempatan sebelum semuanya terlambat. Aku belum bisa membuat ibuku tersenyum ridho padaku karena bakti yang kuhaturkan padanya. Aku bahkan sering meremehkan kewajiban-kewajibanku sebagai anak. Selalu menginginkan dan sering mendapatkan hak-hakku tapi acap kali lalai kewajibanku berbakti. Padahal ibu telah begitu sayangnya pada kami. Padahal ibu telah begitu berkorbannya untuk kami, hingga rela hanya bekerja sebagai konsultan perusahaan kosmetik Swedia yang penghasilannya tidak begitu besar akibat tidak pernah bisa seharian keluar rumah mencari konsumen dan merekrut downline baru, hingga rela tidak bekerja sesuai titel sarjana jurusan kimia MIPA UI yang dimilikinya karena kecerdasannya, hingga rela membagi rezekinya sendiri dengan kami terutama adik-adikku yang masih kecil. Ya Allah, apakah dengan begini berarti kami, khususnya hamba, termasuk anak durhaka? Ya Allah, kenapa hingga kini kami tidak bisa membuat ibu bangga memiliki anak-anak seperti kami? Dan kenapa hamba tidak sungguh-sungguh merasa menyesal telah melakukan perbuatan sebiadab ini? Kenapa? Kenapa?
Astagfirulloh aladzim

Jumat, 04 Juni 2010

Caldo de Gallina: Pequeño pero Grande

    I think I could  forget him.  Get amount energy enough to hush him away. Entonces, i wake up from my asleep: he’s comin’ to me. In my wild dream. And, in fact, i always watch him out amazingly whenever i can see him.
    Three guys stand there.  Atra, Aul and..., him. His back's on me, He walk off. And i can't stand anymore.
    I call his name. Completely. My hands lift up, trying to reach him out. He turns his head. Turns his body towards me. He walks to me, leaving the two others. He grabs both my hands. We’re quiet for some minutes. He sees through my eyes. His lips barely smiles, but i can see how his corner lips moved a little. God, i could swear a slight light passed his eyes the time he turned to me. Words spitted out,
“You're the one who called me out that time?”
He directly understands, even beaming after.
“Yeah.”
His hands holds mine. Strong, protecting without being obsessive.  I felt i can't ever let my eyes off his.
“Thank you. That's so close. If only you didn't call my name...",
The clench loose a bit, his mimic warms up.
It's quiet again, till every dreams about him gathers up by the edge of my throat. Darn it, i wish i'll never wake up from this.
“I'm glad you hold me back” he confessed.
    Embun bercahaya merangkak naik dari perutku ke dada kemudian kepala, meninggalkan ketenteraman dan kesejukan yang melingkupi seluruh tubuhku, seakan baru kali itu embun itu menghinggapiku.
    Aku menanggapi sebiasa aku bisa menahan bungkahan di tenggorokanku, “Kali ini aku cukup berani untuk memanggilmu,” twinkling colours  in his eyes blinking brighter, “tidak hanya menatapmu”, sambungku jengah, and brighter.... Tiba-tiba aku merasa wajahku  memanas.
    He still grabs my hands, but…
“Aku tahu, tapi maaf, aku harus segera pergi,” the rainbow in his eyes sinks…
Tenggorokanku tercekat, mataku telah mengatakan segalanya, pun matanya. Tapi dia seakan membutakan mata dan menulikan telinga. Punggungnya tetap berbalik menghadapku, kakinya mulai menjauh...
    Rintik di sudut netra mengaburkan pandangku. Suara tercekik keluar dari pita suaraku,
“Jangan pergi...”
Dan dia berhenti, memelintirkan bahu dan kepalanya ke arahku. Oh, benarkah itu? Benarkah itu? Sinar matanya padam melihat rintik di sudut mataku? Rahangnya mengeras mendengar isakan lirihku? Badannya mematung.
    Tapi lalu, lamat-lamat, sangat pelan,  dia luruskan badannya. Dia pergi. Dan tak berhenti lagi.
    Rintik telah menderas.
    Lalu aku terbangun.
    Ada satu hal aneh, maka aku bertanya-tanya dalam hati: Kenapa tak ada setetes airpun menitik dari mataku? Saat melihat langit yang kemerahan di luar sana, aku sadar: aku akan baik-baik saja bila harus melupakan  perasaanku padanya. Buktinya, toh aku tak menangis walau rasanya ingin. Beberapa waktu kemudian aku mendapati diriku lega luar biasa. Lega melihat mataku tak basah, juga lega karena itu hanya mimpi. Aku bukan gadis cengeng, meski juga bukan gadis tegar yang menghadapi setiap risiko dan tantangan dengan kepala tegak serta penuh optimis. Oh, dan aku ingin mengucapkan terima kasih padanya telah membuatku belajar menyukai seseorang apa adanya.
    Dan aku tersenyum penuh arti melihat dunia. Duniaku. Dunia kita semua.